LIBEN

...............................................................................................................................................

Klaten, Indonesia

18 years old

Hari Gadis Internasional

Nama saya Temanku Lima Benua. Nama ini diberikan supaya saya punya banyak teman dari lima benua. Saya lahir di Klaten pada 15 April 2002. Saya anak perempuan satu-satunya dari Hariyadi Purnama dan Hidayati dan tinggal di Geritan, Belangwetan, Klaten Utara, Jawa Tengah Indonesia.  Sejak kecil, saya ikut Sibu, panggilan kesayangan untuk nenek. Saat umur 4 tahun, saya senang menggambar di kertas bungkus nasi jualan nenek. Masuk sekolah dasar, saya  mulai menggambar apa saja di tanah, sangat menyenangkan krn jika salah tinggal dihapus pakai kaki. Setelah gambar ditanah selesai, kebiasaan saya adalah menceritakan gambar saya  tentang gambarnya ke teman main dan tetangga yang beli dagangan nenek.


Ketika saya berumur 10 tahun, saya mulai menggambar di atas kertas bekas dengan arang. Terkadang saya menggambar di atas bambu. Selain menggambar ekspresi wajah, saya juga suka menggambar tentang sejarah dan lingkungan. Pada tahun 2013 saya mengikuti Klaten Street Art, menggambar di dinding dan tripleks tentang isu lingkungan dan dipamerkan di monumen Lindu Gedhe Prambanan.


Saat saya umur 13 tahun,  saya diajak Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk pameran di Pekan Budaya Nasional di Kendari Sulawesi Tenggara.  Saya menampilkan karya Sketsa yang berceritera tentang permainan tradisional dan tentang sejarah kerajaan Singosari. Pameran tunggal pertama saya berjudul “Detik-detik Proklamasi”, saya buat di Taman Makam Ratna Bantala dan “Aku Memandang Indonesia” di Pendopo Pemda Klaten. Pameran tersebut menampilkan gambar  para pahlawan dan sang proklamator. Saya membiayai pameran itu dari uang tabungan pribadi yang saya tabung selama 7 tahun dan tambahan uang dari kumpulan ibu-ibu di desa. Setelah dua pameran pertama, saya sering mulai menggambar di kanvas besar dengan cat air yang saya dapat dari toko secara gratis atau diskon. Untuk membeli materi tersebut, saya bernyanyi di acara Carfreeday. Saya juga melakukan percobaan membuat arang dari berbagai kayu.


Saat saya berusia 16 tahun, saya ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif Klaten Biennale yang pertama, sebuah pameran seni rupa. Saya direktur termuda. Saya aktif di pameran, di Indonesia dan Asia. Pada tahun 2018 saya dianugerahi sebagai History Literate Milenial. Tahun ini saya baru saja menyelenggarakan Klaten Biennale yang kedua, yang berfokus pada masalah sampah karena banyaknya sampah di Klaten dan Indonesia. Ini menjadi perhatian dan kritik saya kepada generasi muda untuk memperhatikan dan bertindak. Saya juga berkolaborasi dengan Yayasan Kampung Halaman untuk mendukung kesadaran akan hak dan kesehatan seksual dan reproduksi untuk remaja perempuan.

International Girls Day

My name is Temanku Lima Benua (My friends are from five continents-Eng). This name was given in the hope that I would have many friends from many continents. I am the only daughter of Hariyadi Purnama and Hidayati and live in Geritan, Belangwetan, Klaten Utara, Central Java Indonesia. Since childhood, I lived with Sibu, the favorite nickname for grandmothers. When I was 4 years old, I started to enjoy drawing on the rice wrapping paper that my grandmother sold. Entering elementary school, I started to draw anything on the ground in front of the house. Drawing directly on the soil is very fun, if you erase it with your feet. After the drawing is finished, my habit is to tell the picture to my playmates and neighbors who buy grandma's food.


When I was 10 years old, I started drawing on scrap paper with charcoal. Sometimes I draw on bamboo. Apart from drawing facial expressions, I also enjoy drawing about history and the environment. In 2013, I participated in Klaten Street Art, drawing on walls and plywood about environmental issues and exhibited at the Lindu Gedhe monument in Prambanan.


When I was 13 years old, I was invited by the Directorate of Culture, Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia to exhibit at the National Cultural Week in Kendari, Southeast Sulawesi. I present Sketches about Traditional Games and about the ancient history of the Singosari kingdom. My first solo exhibition entitled "Detik-detik Proklamas'', I made in Ratna Bantala Heroes Cemetery and "I see Indonesia" at the Pendopo Pemda Klaten. The exhibition featured images of the heroes and Indonesia Founding Father. I financed the exhibition from personal money that I saved for 7 years and luckily a group of women in the village helped to fund the exhibition as well. After the two first exhibitions, I started drawing on a huge canvas with watercolors that I got from the shop for free or with a discount. To buy those materials, I sang at the Carfreeday event. I also conducted experiments to make charcoal from various woods.


When I turned 16, I was appointed as Executive Director of the Klaten Biennale, an art exhibition. I am the youngest director. I am active in exhibitions, in Indonesia and Asia. In 2018 I was awarded as a History Literate Millennial. This year I just held the second Klaten Biennale, which focused on waste issues due to the large amount of waste in Klaten and Indonesia. This is my concern. I continue to encourage the young generation to pay attention and make action. I also did a collaboration with Kampung Halaman Foundation to support the awareness of sexual and reproductive health and rights for girls.

Story submitted by our partner: I AM: Projects

Be the first to know about groundbreaking new projects for girls, by girls. 

©2020 Original Media Ventures, LLC